|
Provinsi Kepri, sejak
Jumat 22 Januri 2010 secara resmi dicanangkan sebagai daerah percontohan
pelaksanaan sistem pemantauan online bahan bakar minyak (BBM) tertentu untuk
transportasi darat. BBM Online ini telah diberlakukan di SPBU di Kota
Tanjungpinang, Kabupaten Bintan dan Kota Batam. Apabila program ini berhasil,
maka kedepannya akan diterapkan juga di seluruh daerah di Indonesia.
Program ini merupakan
program BPH Migas dalam rangka memberikan pelayanan dan pengawasan pendistribusian BBM yang maksimal
kepada masyarakat khususnya pengguna bensin, premium dan solar untuk
transportasi darat di wilayah Kepulauan Riau.
Pencanangan dilakukan
oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) RI Wariono Karno. Pencanangan ini
ditandai dengan pemukulan gong di Aula Kantor Gubernur Provinsi Kepri, dengan
disaksikan oleh Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, Kepala BPH Migas Tubagus
Hariono. Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Evita Herawati.
Tubagus Hariono menilai
selama ini BBM bersubsidi pendistribusiannya cenderung tidak tepat sasaran,
sehingga diindikasikan banyak anggaran negara yang terbuang percuma. Hasil
temuan dilapangan selama ini yang BBM bersubsidi bukan hanya masyarakat yang
berekonomi menengah ke bawah saja yang menikmatinya. Namun banyak
juga dijumpai orang-orang kaya dan pejabat ikut membeli BBM bersubsidi
tersebut.
"Ke depan program
ini akan bermanfaat untuk mengidentifikasi kendaraan, nama orang, jenis
kendaraan dan sebagainya. Sehingga jika ternyata pemiliknya orang kaya, maka
mereka tidak akan mendapatkan BBM bersubsidi. Tahap awal ini, sistem ini akan
bekerja sebagai pendataan awal untuk mengidentifikasi masyarakat. Kita mau agar
BBM bersubsidi yang ada lebih tepat sasaran dan tidak semua orang bisa membeli
sesuka hatinya," ujar Tubagus Hariono.
Gubernur Provinsi Kepri
Ismeth Abdullah menyambut baik program tersebut di Kepri. Gubernur berharap
program ini akan berjalan lancar dan tidak mempengaruhi yang lainnya. Sehingga
kemudian bisa segera diterapkan di seluruh daerah di Indonesia. "Program
ini cukup bagus dan banyak sekali manfaatnya.Saya rasa tidak ada permasalahan
selama suplai BBM tidak dikurangi. Kalau suplay BBM dikurangi, baru akan timbul
permasalahan," kata Gubernur Ismeth Abdullah.
Usai pencanangan di Aula
Pemprov Kepri, dilanjutkan dengan simulasi di SPBU Batu 10. Dalam simulasi
tersebut, kemudian keluar dalam komputer spesifikasi kendaraan sesuai yang
tertera dalam kartu fasuilitas yang dipegang pemiliknya. Nama pemilik, jenis
kendaraan, nomor polisi, tahun dikeluarkan dan seluruh data yang bersangkutan
dengan kendaraan serta pemilik.
Dengan demikian, kartu
kendali tersebut akan bisa berfungsi ganda. Disamping untuk pengisian BBM, juga
akan bermanfaat bagi pihak kepolisian untuk melacak keberadaan kendaraan jika
hilang.
Terpisah, Sekjen
Kementerian ESDM Wariono Karno menjelaskan, Kepri dipandang layak dijadikan
pilot project program tersebut. Alasannya jumlah SPBU di Kepri, khusunya di
Bintan, hanya sedikit sehingga lebih mudah dilakukan pengawasan, sebagai bentuk
kontrol pelaksanaan program tersebut. Disamping itu juga, Kepri berada diposisi
yang strategis serta kultur sosial juga menjadi salah satu faktornya.
"Ini yang pertama di Indonesia. Kalau ini sukses
akan kita kembangkan di daerah-daerah lain. Kita jadikan daerah Bintan ini
sebagai percontohan di Indonesia, dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan
yang mendasar tentunya," kata Wariono. (red).
|