TUTUP

Selamat Datang di Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau || Tanggal : 24-May-2019 | Pukul : 16:44:43 , Selamat Sore !!

×

Logo Jembatan Dompak Kepri Secara Keseluruhan Menjadi Simbol Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau Yang Selalu Ingin Terhubung Dengan Masyarakatnya, Selalu Terbuka dan Selalu Mempersembahkan Yang Terbaik Bagi Siapapun Yang Menemuinya. "757 Disingkat Jadi Ju Ma Ju yang Didefinisikan dengan maju-maju. Kepri Maju".

Cetak

Kepriprov.go.id

Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau
TUTUP

Imunisasi MR di Kepri Diperpanjang

Penulis SN - 04 October 2018
108
Ilustrasi Foto Oleh : Diskominfo Kepri

TANJUNGPINANG - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjejep Yudiana menegaskan pemberian imunisasi MR di Kepri diperpanjang hingga 31 Oktober mendatang. Hal tersebut terkait belum targetnya pencapaian imunisasi MR di Kepri. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Kepri agar mau mengimunisasi MR anaknya, pihaknya terus gencar menggelar pertemuan dengan tokoh masyarkat, kepsek, MUI, tokoh agama di beberapa kabupaten/kota di Kepri, termasuk di Batam yang penduduknya paling padat di Kepri. “Kendala terbesar dan paling sulit itu adalah sudah terlanjurnya masyarakat terbentuk opini bahwa pemberian imunisasi atau vaksin MR ke anak itu haram hukumnya. Tanpa dukungan yang kuat dari seluruh masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, MUI dan pimpinan daerah, mustahil target imunisasi di Kepri bisa dicapai,” ujar Tjejep, Rabu (3/10).

Anak yang terkena rubella yang sudah tercatat Dinkes Kepri, lanjut Tjejep, jumlahnya mencapai 114 anak yang tersebar di kabupaten/kota se-Kepri. “Itu untuk jumlah yang dilaporkan loh ya. Kalau yang tak terlaporkan, saya yakin jumlahnya lebih banyak. Bahkan saat rapat kami dengan Kabid penanggulangan penyakit di Tanjungpinang, tiap satu RW itu, rata-rata dua sampai tiga anak terkena rubella. Tapi orangtuanya enggan melapor ke dinkes karena mereka tak mau anaknya sampai terpublikasi terkena rubella,” terangnya. Jumlah terbanyak anak ditemukan terkena rubella sendiri, lanjut Tjejep, didominasi dari Batam. “Tapi saya jumlah pastinya tak hafal. penderita ini ketahuan terkena rubella setelah memeriksakan ke rumah sakit. Sementara yang sudah terlanjur kandunganya keguguran, terlanjur cacat, itu tak diperiksakan oleh orangtuanya. Contoh faktanya adalah siswa di SLB,” katanya.

Di Kepri sendiri saat ini jumlah SLB ada enam, termasuk di Batam dengan jumlah murid sekitar dua ribuan lebih. Tjejep menegaskan dari jumlah SLB tersebut tiap sekolah itu sebagian dipastikan cacat karena terkena rubella. “Kalau kurang yakin dengan ganasnya virus rubella yang menjangkiti anak-anak di Kepri, saya sarankan masyarakat datanglah ke SLB. Virus rubella sendiri bagi yang terjangkit dampaknya menimbulkan kebutaan, bisu, tuli, perkembangan tubuhnya tak normal atau cebol hingga ke kematian,” terang Tjejep.
Untuk jadwal pemberian imunisasi MR sendiri di tiap posyandu dilakukan sebulan sekali. Sementara untuk di puskesmas se-Kepri dilakukan tiap seminggu sekali dan itu semua gratis. Sedangkan di rumah sakit bisa dilakukan tiap hari, namun dikenakan biaya jasa penanganan dokter. “Kenapa di puskesmas dilakukan seminggu sekali? Sebab yang datang ke puskesman untuk imunisasi jumlahnya sedikit sekali. Kalau tiap hari hanya ada tiga atau empat orang saja yang mau imunisasi MR, itu sangat mubazir sekali. Karena satu ampul vaksin MR itu harus dipakai untuk delapan anak dan sekali dibuka, apabila masih tersisa, harus segera dibuang, tak boleh lagi disimpan atau digunakan lagi ke anak lainnya,” ujar Tjejep mengakhiri.

Dipublish Oleh - Diskominfo Kepri