TUTUP

Selamat Datang di Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau || Tanggal : 12-Jul-2020 | Pukul : 12:49:17 , Selamat Siang !!

×

Logo Jembatan Dompak Kepri Secara Keseluruhan Menjadi Simbol Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau Yang Selalu Ingin Terhubung Dengan Masyarakatnya, Selalu Terbuka dan Selalu Mempersembahkan Yang Terbaik Bagi Siapapun Yang Menemuinya. "757 Disingkat Jadi Ju Ma Ju yang Didefinisikan dengan maju-maju. Kepri Maju".

Cetak

Kepriprov.go.id

Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau
TUTUP

Empat Mahasiswa UMRAH Produksi Tujuh Varian Keripik

Penulis Novyana Handayani - 14 January 2020
595
Empat orang mahasiswa UMRAH ini memproduksi keripik dengan varian yang tidak biasa. Yaitu keripik bengkoang, wortel, keledek, jantung pisang, pepaya, labu dan kelapa. Foto Oleh : Novyana

TANJUNGPINANG- Keripik pisang atau keripik ubi sudah biasa. Empat mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) ini mencari sesuatu yang tak biasa. Akhirnya lahirlah keripik bengkoang, wortel, keledek, jantung pisang, pepaya, labu dan kelapa.

 

Tujuh keripik bercitarasa unik tersebut diproduksi oleh Lisa, Dewi, Rindi dan Hery. Awalnya mereka hanya coba-coba. “Awalnya kami ingin buka usaha, tapi bingung apa. Akhirnya ada ide buat keripik ini. Idenya semua sama-sama,” ujar Dewi, asal Tembilahan di Kepri Smart Province (KSP), Selasa (14/1).

 

Keripik ini mereka beri merk Ole Ole. Mudah diingat dan gampang diucap oleh lidah. Apalagi bila pulang dari berpergian, selalu oleh-oleh atau buah tangan yang dibawa. Ole Ole ini mereka produksi sendiri, sejak akhir Desember lalu.

 

“Awalnya kami coba-coba dulu. Setelah cocok, baru kami jual,” sebut Lisa yang asli Sumbar. Awal Januari lalu mereka pertama kali berjualan. Dengan kemasan seadanya. Dari kertas nasi yang mereka sulap menjadi kemasan.

 

“Ide kemasannya dari abang-abang ini,” ungkap Lisa sambil menunjuk Rindi yang asli Tanjungpinang dan Hery yang berasal dari Karimun. Ternyata produk mereka laris manis. Hingga saat ini sudah empat kali produksi.

 

Setiap kali akan produksi, mereka janjian untuk berbelanja bahan pokok ke pasar. “Jam 4 subuh kami ke pasar sama-sama,” sebut Dewi. Mereka memang harus ke pasar pagi-pagi sekali. Disamping untuk berburu bahan pokok yang segar, juga jantung pisang sulit didapat.

 

Produksinya pun masih sederhana. Dilakukan di kontrakan Dewi, dengan kompor, gas dan ampia yang masih pinjam. Beberapa peralatan seperti timbangan mereka beli, setelah produk mereka laris manis. Sebagai modal awal, masing-masing mengumpulkan Rp 100 ribu.

 

“Alhamdulillah untung. Keuntungannya kami masukan celengan,” ungkap Dewi. Biasanya Ole Ole ini mereka pasarkan secara online, melalui media sosial. Dalam sehari, setidaknya ada lima pesanan keripik. Tiga kali dalam sepekan, bersama-sama mereka turun berjualan.

 

“Kalau malam minggu, kami keliling ke Tugu Provinsi,” jelas Lisa yang kini duduk di semester 10. Jantung pisang menjadi yang paling laris. Maklum keripik satu ini yang paling tak biasa, mengundang penasaran. “Enak kok,” ujar Rani yang menjajal keripik jantung pisang.

Mereka mengaku mau mendaftarkan produk Ole Ole, sebagai produk industri rumah tangga. Namun terkendala persayaratan. Mereka juga sudah berkonsultasi soal kemasan, pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepri.

 

“Katanya mereka bisa bantu desainkan. Tapi desain mentah harus dari kami. Tapi kami bingung juga, mau tambah P-IRT dulu atau langsung cetak kemasan,” ungkap Hery. Mereka merasa terbantu dengan Kepri Smart Province yang bersedia membantu mempromosikan Ole Ole.

 

“Kalian harus serius. Ada kendala itu biasa dalam bisnis. Di Batam itu orang-orang Singapura bawa oleh-oleh keripik berkilo-kilo. Jadi usaha kalian ini harus serius,” sebut Iskandar Zulkarnaen Nasution, S.IP, M.Phil, Kabid Pengelolaan Komunikasi Publik pada Diskominfo Kepri.

 

Iskandar memborong beberapa varian rasa keripik Ole Ole. Bagi yang penasaran, bisa order langsung di 0852 7498 8297 atau Instagram oleole-pinang dan facebook Oleole Tanjungpinang.

 

Dipublish Oleh - Diskominfo Kepri