TUTUP

Selamat Datang di Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau || Tanggal : 19-Sep-2020 | Pukul : 23:06:37 , Selamat Malam

×

Logo Jembatan Dompak Kepri Secara Keseluruhan Menjadi Simbol Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau Yang Selalu Ingin Terhubung Dengan Masyarakatnya, Selalu Terbuka dan Selalu Mempersembahkan Yang Terbaik Bagi Siapapun Yang Menemuinya. "757 Disingkat Jadi Ju Ma Ju yang Didefinisikan dengan maju-maju. Kepri Maju".

Cetak

Kepriprov.go.id

Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau
TUTUP

Perdagangan masker tidak terkendali sehingga langka

Penulis asiik1 - 26 March 2020
305
ilustrasi Foto Oleh : Diskominfo Kepri

TANJUNGPINANG - Perdagangan masker di Indonesia, khususnya di provinsi yang sejumlah warganya sudah terinfeksi COVID-19, seperti di Batam, Karimun dan Tanjungpinang tidak terkendali, kata anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Rudy Chua.

"Kami sudah mempertanyakan persoalan ini kepada pihak produsen Masker Sensi. Mereka produksi kemudian menjualnya kepada distributor," ujarnya di Tanjungpinang, Kamis.

Rudy mengatakan masker bisa dijual oleh banyak orang, yang bukan berasal dari apotek. Bahkan penjualan masker terjadi di swalayan dan perorangan.

Banyak akun facebook perorangan maupun aplikasi belanja daring menjual masker tersebut. Harganya pun sangat mahal, mencapai Rp350.000-Rp400.000 per kotak sehingga memberatkan masyarakat.

Padahal satu lembar masker yang dijual di apotek hanya Rp2.000. Satu kotak berisi 50 lembar.

"Persoalannya di apotek tidak dijual masker itu. Setiap kali saya ke apotek, masker sudah habis. Ditanya kapan datang masker itu, mereka juga tidak tahu pasti," ujarnya.

Ia tidak yakin pemerintah tidak mengetahui hal ini. Pembiaran terhadap orang-orang yang memanfaatkan situasi ini merupakan sikap yang tidak bijaksana.

"Apa yang harus dilakukan pemerintah itu sangat sederhana, kendalikan perdagangan masker. Masker seharusnya hanya dijual di apotek, bukan di tempat umum," katanya.

Rudy mengatakan pengendalian masker perlu dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan seperti sekarang ini. Pemprov Kepri dan pihak rumah sakit sendiri sekarang kesulitan mendapatkan masker, padahal itu dibutuhkan.

Dokter dan perawat membutuhkan masker. Pasien ODP maupun orang yang sakit batuk dan pilek seharusnya mengenakan masker itu. Namun masker tidak.

"Orang yang salit tidak kenakan masker, maka orang yang tidak sakit pun panik mencari dan membeli masker, meski dengan harga yang tinggi," tuturnya.

Dipublish Oleh - Diskominfo Kepri