TUTUP

Selamat Datang di Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau || Tanggal : 24-Sep-2020 | Pukul : 14:58:40 , Selamat Siang !!

×

Logo Jembatan Dompak Kepri Secara Keseluruhan Menjadi Simbol Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau Yang Selalu Ingin Terhubung Dengan Masyarakatnya, Selalu Terbuka dan Selalu Mempersembahkan Yang Terbaik Bagi Siapapun Yang Menemuinya. "757 Disingkat Jadi Ju Ma Ju yang Didefinisikan dengan maju-maju. Kepri Maju".

Cetak

Kepriprov.go.id

Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau
TUTUP

Legenda Joget Dangkong, Kini Bergantung Hidup Dari Lidi

Penulis Novyana - 13 July 2020
150
Sejak pandemi corona, Mak Dare tak lagi mendapat panggilan berjoget dangkong. Kini ia menggantungkan hidup dari lidi. Mak Dare terharu saat beberapa orang memberi bantuan sembako dan uang tunai baginya. Foto Oleh : Asiik3

TANJUNGPINANG - Sejak pagi mendung sudah menggelayut di langit Kota Tanjungpinang, Sabtu (11/7). Tapi wajah Mak Dare berseri. Sejak pagi ia sudah berdandan cantik. Mengenakan gamis motif kembang, lengkap dengan jilbab berwarna hitam. Wajahnya dihiasi bedak. Tak lupa alis matanya ia poles. Bibirnya ia beri pemerah. 

Pagi itu ia akan kedatangan tamu. Orang-orang yang perduli pada nasibnya. Pada nasib seni joget dangkong. Begitu rombongan tiba di depan Kantor Kelurahan Dompak, Mak Dare langsung menyambut. Ia tak menyangka, rombongan itu begitu ramai.

Terdiri dari empat mobil dan beberapa sepeda motor. “Ayok…ayok ke rumah,” semangat Mak Dare menunjuk arah rumahnya. Rumah itu sederhana. Berdinding batako, tanpa plester. Lantainya masih semen kasar, dialas dengan karpet plastik bermotif bunga.

Rumah itu sederhana, namun rapi dan bersih. Di sudut ruangan, teronggok lidi dari pohon kelapa. Memang selama pandemi corona ini, Mak Dare tak lagi mendapat undangan untuk menjadi pengisi acara. Ia tak mendapat orderan untuk berjoget dangkong.

Waktunya ia isi dengan membersihkan daun kelapa dan dibuat lidi. Daun kelapa ia kumpulkan sendiri, dari pohon-pohon milik warga di Dompak Seberang. “Ambek daun kelape yang dah jatoh,” terang legenda hidup joget dangkong ini.

Satu kilo daun kelapa yang sudah ia bersihkan, dijual kepada pengumpul seharga Rp 6  ribu. Setelah terkumpul sebanyak 10 kilogram, baru ia jual. Namun untuk mendapatkan dua kilogram saja, ia sudah kepayahan. Maklum, kini usianya sudah 68 tahun. 

“Nak kumpul due kilo aje dah sakit punggung,” ujar pemilik nama lengkap Dare Binti Duka ini. Tapi tak ada lagi yang bisa ia kerjakan. Sementara dapur harus tetap berasap. Sedangkan suaminya, Satiman kini sudah sakit-sakitan. Padahal suaminya adalah pemain biola pada seni joget dangkong yang Mak Dare asuh. 

Tanpa suaminya, ia terpaksa minta tolong pada pemain biola lain jika ada panggilan berjoget dangkong. Namun semenjak pandemi corona, Mak Dare tak bisa lagi manggung. Padahal ia rindu dengan meriahnya suasana joget dangkong. 

Karena itu ia langsung beraksi saat diminta menyanyikan Tarik Rawai. “Tarek rawai ah…ah tarik rawai.  Tarik lagi ah…ah tarik lagi,” Mak Dare bernyanyi sambil bergoyang. Lagu itu ia tulis sendiri. Berdasarkan pengalamannya sebagai nelayan dulu. 

Ibu dari dua orang anak ini juga sempat menyanyikan Nona Singapura. Saat ia berjoget, para tamu bertepuk tangan. Ternyata tak hanya Mak Dare saja yang merindukan panggung. Para penonton juga merindukan aksi Mak Dare.

Ia yang sudah mengasuh Sanggar Seni Joget Dangkong Sri Melayu Dompak sejak 1999 itu, memberi warna tersendiri pada dunia seni tradisional di Tanjungpinang. Sudah tak terhitung panggung ia rajai. Tak terhitung penonton ia hibur. Mulai dari masyarakat biasa, hingga walikota dan gubernur.

Mak Dare mengenang, dulu ia bisa mengumpulkan uang saweran hingga Rp 400 ribu saat sekali manggung. Bahkan beberapa saweran bermata uang asing. “Masih Mak Dare simpan. Kalau takde duit, inilah penunggu dompet Mak Dare,” ia menunjukan lembaran dollar Amerika, ringgit Malaysia dan dollar Singapura.

Kini ia berharap, pandemic corona ini segera berlalu. Hingga joget dangkong bisa kembali menghibur masyarakat Tanjungpinang.

Dipublish Oleh - diskominfo