TUTUP

Selamat Datang di Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau || Tanggal : 25-Jun-2019 | Pukul : 22:35:56 , Selamat Malam

×

Logo Jembatan Dompak Kepri Secara Keseluruhan Menjadi Simbol Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau Yang Selalu Ingin Terhubung Dengan Masyarakatnya, Selalu Terbuka dan Selalu Mempersembahkan Yang Terbaik Bagi Siapapun Yang Menemuinya. "757 Disingkat Jadi Ju Ma Ju yang Didefinisikan dengan maju-maju. Kepri Maju".

Cetak

Kepriprov.go.id

Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau
TUTUP

Pemprov Kepri Sokong Dana untuk Hadirkan Guru Agama ke Pulau Terluar

Penulis SN - 10 September 2018
77
Ilustrasi Foto Oleh : Diskominfo Kepri

BINTAN - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) memberikan perhatian serius atas minimnya sentuhan pendidikan agama di daerah terpencil, salah satunya di Pulau Pejantan yang masuk wilayah Kabupaten Bintan. Meski penghuni di Pulau Pejantan tak begitu banyak, namun pendidikan agama tetap dianggap penting. Hal itu sudah menjadi tanggung jawab Pemprov Kepri bersama lembaga terkait.

Kepala Biro Kesejahteraan masyarakat (Kesra) Pemprov Kepri, Tarmidi, Sabtu (8/9), mengatakan upaya pendidikan keagamaan akan dikoordinasikan dengan Kemenag di tingkat Provinsi dan Kabupaten Kota, supaya para pengajar bisa sampai di pulau-pulau. Pemprov Kepri juga akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan agar bisa menghadirkan ustad. Bahkan hingga ke kawasan terluar, seperti di Pulau Pejantan yang membutuhkan waktu 8 jam untuk sampai dari Kecatan Tambelan. Dan pada 2019, Pemprov Kepri akan menyiapkan anggaran sebesar Rp 30 miliar untuk memastikan hadirnya pengajar Alquran di daerah-daerah terpencil. Program ini sebagai bentuk hadirnya pemerintah untuk mereka yang berada jauh dari jangkauan.

Seperti diberitakan, Pulau Pejantan merupakan daerah terluar di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulaun Riau (Kepri). Wilayah tersebut dihuni 15 kepala keluarga (KK). Mayoritas warganya memeluk agama Islam. Namun fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar sangat minim, termasuk guru agama, sehingga pemeluk Islam di Pulau Pejantan tidak bisa membaca Alquran. Bahkan sempat beredar kabar, ketiadaan tokoh agama di desa terpencil itu memaksa warga mengubur jenazah tanpa disalatkan terlebih dahulu.

Dipublish Oleh - Diskominfo Kepri