TUTUP

Selamat Datang di Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau || Tanggal : 18-Sep-2019 | Pukul : 08:31:35 , Selamat Pagi !!

×

Logo Jembatan Dompak Kepri Secara Keseluruhan Menjadi Simbol Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau Yang Selalu Ingin Terhubung Dengan Masyarakatnya, Selalu Terbuka dan Selalu Mempersembahkan Yang Terbaik Bagi Siapapun Yang Menemuinya. "757 Disingkat Jadi Ju Ma Ju yang Didefinisikan dengan maju-maju. Kepri Maju".

Cetak

Kepriprov.go.id

Portal Resmi Provinsi Kepulauan Riau
TUTUP

Penulis asiik1 - 12 September 2018
153
Foto Oleh : Diskominfo Kepri
TANJUNGPINANG - Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau tidak kehabisan akal untuk menghadapi gencarnya penolakan pemberian Vaksin MR. Kepala Dinkes Kepri Tjetjep Yudiana, di Tanjungpinang, Selasa, Vaksin MR akan duduk bersama pengurus Majelis Ulama Islam (MUI) dan tokoh agama membahas Imunisasi MR untuk mencegah virus campak dan rubella meluas. "Ini salah satu solusi, selain menunggu arahan dari pusat. Kalau tidak ada solusi, kami pesimistis target dapat terpenuhi," katanya. Saat ini, kata dia pemberian Vaksin MR kepada warga usia 9 bulan-15 tahun mengalami hambatan, karena masih banyak sekolah yang menolaknya. mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan petugas yang sampai sekarang tetap semangat memberi Imunisasi MR kepada warga, meski hasilnya tidak maksimal. "Di pikiran kami bagaimana menyelamatkan generasi muda dari serangan virus campak dan rubella. Imunisasi  MR merupakan solusinya, sehingga petugas sampai sekarang tetap bersemangat melaksanakan tugasnya, meski kerap ditolak pihak sekolah," ujarnya. Tjetjep mengatakan humlah anak usia 9 bulan hingga 15 tahun yang telah diimunisasi vaksin MR hanya sekitar 30  persen dari 680 ribu orang. Sementara berdasarkan hasil analisis kesehatan, persentase vaksinasi MR yang tidak mencapai 90 persen, tidak membuahkan hasil yang maksimal. "Dari aspek kesehatan, 60 persen saja yang diimunisasi, percuma, karena masih banyak yang potensial tertular," ucapnya. Ia mengingatkan masyarakat bahwa campak dan rubell bukan penyakit yang mudah diobati, karena itu perlu diwaspadai dan diantisipasi sebelum menyebar luas. "Lebih baik mencegah daripada mengobati," ujarnya. Ia juga mengingatkan wilayah ini potensial ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat penularan campak dan rubella yang meluas. Indikator penyakit campak dan rubella mudah menyebar luas dapat dilihat dari jumlah penderitanya, letak geografis Kepri dan jumlah warga yang sudah diberi vaksin MR. Saat ini, kata dia jumlah warga Kepri yang terinfeksi rubella sebanyak 114 orang, sedangkan campak mencapai 170 orang. Jumlah penderita campak dan rubella itu diperkirakan lebih dari itu jika dihitung dengan penderita yang tinggal di pulau-pulau. "Kita semua tentu tidak menginginkannya, tetapi kondisi sekarang membuahkan hasil analisis kesehatan yang memungkinkan terjadi KLB jika tidak segera diantisipasi," ujarnya. Tjetjep mengatakan warga asing yang masuk Kepri juga potensial menyebarkan virus campak dan rubella. Saat ini, kata dia sebanyak 40 ribu warga Eropa terjangkit penyakit yang mematikan tersebut.    "Kepri merupakan wilayah tujuan wisata bagi warga asing. Kita tidak mengetahui apakah turis tersebut bebas penyakit itu atau tidak," katanya. Dipublish Oleh - Diskominfo Kepri