Rahma Bangga Pernah Jadi Tukang Cuci Baju

22 Desember 2019, 08:45 2,856 Tayangan
Rahma Bangga Pernah Jadi Tukang Cuci Baju

TANJUNGPINANG - Tepat 11 Mei, 44 tahun yang lalu. Suara tangis seorang bayi pecah, membawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya. Ia terlahir kembar. Lima menit saja lebih lambat dari kakaknya, Rohani. Anak keempat dari lima bersaudara itu diberi nama Rahma.

Lahir di Sungai Danai, di Guntung, Indragiri Hilir, Riau sana, Rahma dan keluarga hidup sederhana. Orangtuanya hanya petani. Bercocok tanam kelapa. Desa mereka terpencil. Tak ada listrik. Sekolah dasar tempat Rahma menuntut ilmu hanya berupa bangunan kayu. Dengan lantai tanah.

“Setelah 20 tahun, pause kemaren saye balek. Sekolah itu masih same bentuknya. Masih kayu dan lantai die masih tanah. Tapi memang sekolahnya sudah pindah ke lokasi baru. Tapi sekolah saya itu masih ade juge. Persis macam sekolah Laskar Pelangi tu,” kenang Rahma dengan senyum tersungging, Selasa (17/12).

Sekolah dasar itu menjadi satu-satunya sekolah di Sungai Danai. Tak ada SMP, apalagi SMA. Sedangkan bapak Rahma, bermimpi anaknya dapat mengenyam pendidikan agama. Setamat SD, keluarga itu pindah ke Tanjungbatu.

Satu setengah jam perjalanan, keluarga itu tempuh dengan pompong. Itu kali pertama, Rahma remaja menginjakan kaki ke Tanjungbatu. Tanah kelahirannya terpaksa ia tinggalkan. Kebun kelapa milik keluarga, dititipkan pada orang.

Sesuai harapan orangtua, Rahma dan Rohani mengenyam pendidikan di MTS Negeri Tanjungbatu. “Saya masih ingat, waktu itu kepala sekolahnya Pak Munzir,” kenang ibu dari tiga orang anak ini. Saban hari keduanya sekolah dengan berjalan kaki. 
“Setelah itu baru bapak belikan sepeda. Biru warnanya,” Rahma tersenyum mengenang sepeda yang setiap hari ia kayuh sejauh empat kilometer, dari rumah ke sekolah. Sambil sekolah, ia berjualan es tahu, yang dititipkan di kantin sekolah.

Setiap pulang sekolah, tahu ia blender. Lalu dibekukan di kulkas bekas Singapura, yang dibeli bapaknya. “Saya jual Rp 500. Mamak saya pun bantu-bantu jualan kue. Ada nagasari dan bike ubi. Dijual Rp 500,” kenang wanita yang hobi berenang ini.

Sepulang sekolah, dia juga membantu bapaknya di kebun dekat Sungai Sebesi. Mereka menanam nanas, pisang, hingga tebu. Tebu itulah yang ia jual ke tukang air tebu. Disana ada rumah panggung, tempat mereka biasa beristirahat saat berkebun.

“Hari ini bapak saya masih disitu bersama, bersama mamak tiri. Masih berkebun juga. Ade juga pelihara kambing. Kadang saye same kakak saye suka bergurau, rumah bapak ni bise kenak bedah rumah,” Rahma tertawa.

Tapi perjalanan hidup Rahma benar-benar dimulai saat ia meninggalkan rumah, setelah lulus dari MAN Tanjungbatu. Rahma muda bertekad ia harus kuliah. Harus punya ijazah S1. Tapi orangtuanya hanya petani biasa, tak sanggup membiayai dua putri kembarnya melanjutkan pendidikan tinggi.

Apalagi keduanya tak lulus seleksi perguruan tinggi negeri di Pekanbaru. Rohani memilih pulang. Sedangkan Rahma mendaftar di UIR dan diterima di jurusan Administrasi Negara. Resmi menjadi mahasiswa, Rahma harus memutar otak, bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Di dalam itu karena keterbatasan tahun 1995-1996, saya di Pekanbaru saya harus prihatin. Karena pesan bapak saya begitu. Kau boleh kuliah tak boleh minta beli buku. Karena menunjukan keseriusan saya kuliah sama bapak, saya masuk ke asrama putri UIR di Marpoyan. Subhanallah ketatnya,” kenang Rahma.

Setiap kali uang bulanan sebesar Rp 60 ribu yang dikirimi bapaknya, langsung ia bayarkan uang asrama sebesar Rp 21 ribu. Sisa Rp 39 ribu ia hemat sedemikian rupa. Sepekan ia belanja kebutuhan dapur sebesar Rp 7 ribu. “Itulah saya masak sambal bilis untuk lima hari sampai seminggu.”

Namun sayangnya, memasuki semester tiga Rahma terpaksa pulang. Ibu tercinta terserang stroke. Lagipula, bapaknya tak sanggup lagi mengirimkan biaya hidup setiap bulan. “Tapi sebelum pulang itu saya berusaha bagaimana bisa bertahan. Saya cari kerja, tapi tak ketemu,” wanita berjibab ini mengisahkan.

Di Tanjungbatu, Rahma terpaksa bekerja. Ia menjadi penjaga toko, dengan gaji Rp 7500 per hari. Ia sempat menjadi bahan tertawaan. “Kalau berangkat kerja itu, preman-preman itu sukak ketawakan. Katanya, kuliah tapi jaga toko. Cuma saya tak kecik hati,” sebut Rahma.

Semangatnya untuk kuliah, tak pernah benar-benar padam. Ia simpan dalam hati. Hampir setiap hari, ia membaca Koran, mencari lowongan pekerjaan di Pekanbaru. Hingga suatu hari, ia melihat ada pembukaan kursus guru taman kanak-kanak. 

Rahma semangat. Niat kembali ke Riau daratan ia sampaikan pada bapaknya. Berbekal tabungan sebesar Rp 350 ribu dari gaji menjaga toko, ia berangkat ke Pekanbaru. Disana Rahma mengikuti kursus di Tadikapuri, dekat ujung Jln Sisinga Mangaraja.

Agar dapat bertahan, sambil kursus Rahma menjadi buruh cuci. Ia mencuci dan menyetrika pakaian tiga orang temannya. “Saya ingat betul namanya Qoriah Wati, tinggalnya sekarang di Tiban Kampung. Satu lagi anak KUA Guntung. Mereka baik betul,” Rahma menangis mengenang saat ia menjadi tukang cuci. Tisu ia sapukan ke air mata yang mengalir ke pipi. Lama ia terdiam, mengenang kembali masa-masa itu

Dari hasil mencuci, sebulan Rahma berhasil mengumpulkan uang Rp 100 ribu. Hampir setahun juga ia melakoni tugas menjadi tukang cuci. Setiap subuh, pakaian yang ia cuci lalu dijemur. Setelah itu ia berangkat kursus, yang mulai pukul 07.30-14.00.

Enam bulan kemudian, ia terpaksa PKL. Untung saja lokasi PKL tak jauh dari rumah kostnya. Seorang tetangga menawarkan dirinya, melamar sebagai sales susu bayi. “Saya ingat waktu melamar itu diantar tetangga yang namanya Mas Yanto. Disana saya ketemu Ibu Prety. Alhamdulilah saya diterima training selama tiga bulan.”

Untungnya, kepala TK tempatnya PKL tak keberatan Rahma datang sesekali saja, jika ada waktu. Setiap pagi, Rahma menerima materi training. Lalu kemudian diangkut dan diturunkan ke perumahan-perumahan, tempat ia menawarkan produk susu bayi dari rumah ke rumah.

Sore harinya, ia dari pukul 15.09-19.00 ia harus berdiri di swalayan, menawarkan produk susu yang sama. “Swalayanya di Jalan Jendral Sudirman, Toko Putra Jaya namanya. Sekarang kalau liat SPG, saya simpati. Kadang saya sapa, kamu harus semangat ya. Saya ini punya ilmu yang banyak berkat kerja ini.”

Selesai dari swalayan, Rahma lanjut ke tempat praktek dokter anak. Menawarkan produk susunya pada orangtua bayi. Bekerja dari pagi hingga malam, Rahma berhasil menerima gaji pertama pada September 1996 sebesar Rp 112ribu. 

“Saya bahagia banget. Saya langsung telp bapak saya di wartel, magrib. Saya bilang, saya panggil Ambok. Ambok mulai sekarang tak usah piker saya lagi. Saya udah bisa gajian RP 112ribu. Sejak itu saya tak pernah minta duit sama bapak atau sodara. Saya bangga luar biasa,” tutur Rahma.

Januari 1997, Rahma dipindahkan ke Batam. Sertifikat sebagai guru taman kanak-kanak yang ia peroleh, tak pernah ia gunakan hingga kini. Lalu pada Maret tahun yang sama, ia dipindahkan ke Tanjungpinang. Kota yang membuatnya jatuh hati. 

Disini gajinya sudah Rp 611 ribu. Ia bisa membayar uang kost di Rumah Bidan Ratna Ningsih, di Jalan Soekarno Hatta. Ia sempat terpilih menjadi sales susu terbaik se-Sumatera. Setelah itu Rahma sempat menjadi sales di perusahaan farmasi. Pernah pula menjadi inang-inang.

“Saya pernah juga jadi inang-inang. Berjualan. Makanya kalau ke pasar itu di Jalan Gambir, banyak yang saya kenal. Banyak juga yang ingat saya sebagai penjual susu. Sampai hari ini saya masih diingat sebagai penjual susu,” Rahma tersenyum.

Tak pernah bermimpi jadi orang nomor dua di Kota Tanjungpinang, Rahma merasa punya tanggungjawab yang besar. “Saya jadi tukang cuci, jadilah tukang cuci terbaik. Hari ini saya jadi wakil walikota, saya harus jadi wakil terbaik untuk Ayah Syahrul. Saya harus menempatkan posisi saya sebagai wakil. Tak pernah menyangka duduk, tak pernah bermimpi,” tutup Rahma.

Bagikan Halaman

Pratinjau Gambar

Pratinjau Gambar

Layanan

Lihat Semua Layanan